PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KEPEMILIKAN MANAJEMEN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
Harwidhea Dewantari Putri
170820301013
Program Pasca Studi Strata 2 Akuntansi
Universitas Jember (UNEJ)
Abstrak .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen dan kepemilikan asing terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian explanatory research.. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan tahunan perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2012 sampai dengan tahun 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI).Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 sampai tahun 2014. Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode jugment sampling, yaitu salah satu bentuk dari metode purposive sampling dengan mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan maksud dan tujuan peneliti.Hasil penelitian menunjukkan bahwa(1) Kepemilikan Institusional yang baik mampu memberikan pengungkapan tanggung jawab sosial (CSR) yang lebih luas,(2) Kepemilikan Manajemen yang baik mampu memberikan pengungkapan tanggung jawab sosial (CSR) yang lebih luas, dan (3) Kepemilikan Asing yang baik mampu memberikan pengungkapan tanggung jawab sosial (CSR) yang lebih luas.

Kata kunci: Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajemen,Kepemilikan Asing, Corporate Social Responsibility

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

THE INFLUENCE OF INSTITUTIONAL OWNERSHIP, MANAGEMENT OWNERSHIP AND FOREIGN OWNERSHIP OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURES
(Study on Manufacturing Companies Listed on Indonesia Stock Exchange)
Harwidhea Dewantari Putri
170820301013
Program Pasca Studi Strata 2 Akuntansi
Universitas Jember (UNEJ)
Abstract. This study aims to determine the effect of institutional ownership, management ownership and foreign ownership of the disclosure of Corporate Social Responsibility (CSR). The approach used in this research is qualitative approach with explanatory research type. The data source used is secondary data in the form of annual report of Manufacturing company listed in Indonesia Stock Exchangeduring period of 2012 until 2014. Population in this research is an entire Manufacturing company listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). The samples in this study are all Manufacturing companies that have been listed on the Indonesia Stock Exchange in 2012 until 2014. Sampling method that will be used in this study is the jugment sampling method, which is one form of purposive sampling method by taking a predefined sample based on the intent and purpose of the researcher. The results of the study indicate that (1) Good institutional ownership is able to provide greater disclosure of social responsibility (CSR), (2) Possession Good management is able to provide broader disclosure of social responsibility (CSR) and (3) Good foreign ownership can provide a broader disclosure of social responsibility (CSR).

Keywords: Institutional Ownership, Ownership Management, Foreign Ownership, Corporate Social Responsibility

PENDAHULUAN
Saat ini pembahasan mengenai kerusakan lingkungan merupakan suatu hal yang banyak mendapat sorotan bersamaan topik-topik penting lainnya seperti masalah sosial, politik, kesehatan, dan perekonomian.Salah satunya di Indonesia.Penanganan terhadap kerusakan lingkungan tersebut merupakan tangung jawab seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, termasuk pemerintah dan perusahaan-perusahaan. Perusahaan seharusnya tidak mementingkan keuntungan perusahaan saja namun juga harus memenehi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan didalamnya (pemegang saham, manajer dan karyawan) serta menjaga norma dalam lingkungan masyarakat disekitarnya. Salah satu perusahaan yang berhubungan dengan sumber daya alam dan lingkungan sekitarnya di dalam melakukan aktivitas operasi adalah perusahaan manufaktur.Oleh karenanya perusahaan manufaktur seharusnya bisa memberikan pengungkapan pertanggung jawaban sosial dan lingkungan (CSR).

Sejauh ini, kegiatan CSR yang diungkapkan oleh perusahaan sub sektor manufaktur masih terlihat tidak merata.CSR merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada singel bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang diklarifikasikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja.Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines yaitu financial, sosial, dan lingkungan.Hal ini dikarenakan kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (substainable).

Indonesia pengungkapan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility Disclosure) diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.Sehingga tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan keputusan dan kewajaran.Faktor kepemilikan saham (Institusional, manajemen dan asing) merupakan faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR, seperti leverage, size, dan profitabilitas.Namun demikian, secara teoritis semakin tinggi kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan asing menjadikan pengawasan yang lebih ketat terhadap manajemen perusahaan untuk melakukan dan mengungkapkan kegiatan sosial perusahaan (Rustiarini, 2011).Banyak perusahaan semakin menyadari pentingnya program CSR sebagai salah satu bagian dari strategi perusahaan dan mendapatkan legitimasi oleh masyarakat.

LANDASAN TEORI
TANGGUNG JAWAB SOSIAL(CSR)
The World Business Council for Sustainable Development membuat pernyataan bahwa Corporate Social Respinsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai sebuah komite bisnis dari sebuah perusahaan untuk melaksanakan etika keperlakuan (behavior ethics) dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic development) (Savitrah, 2015). Hal tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk kinerja bersama dengan para karyawan, lingkungan, masyarakat yang nantinya bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis dan pembangunan. Pembangunan berkelanjutan ini memfokuskan pada keseimbangan aspek ekonomi, aspek sosisal, dan aspek lingkungan (Riswari, 2012).

Dalam Savitrah (2015) dijelaskan adanya tujuh elemen dasar dari praktik Corporate Social Responsibility (CSR) menurut ISO 26000:2010 yang bisa dilakukan oleh perusahaan, yaitu :
Tata kelola perusahaan. Elemen ini mencangkup bagaimana perusahaan harus bertindak sebagai elemen dasar dari tanggung jawab sosial (social responsibility) dan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menerapkan perilaku yang memiliki tanggung jawab sosial dan berkaitan dengan elemen dasar lainnya.

Hak asasi manusia. Elemen ini mencangkup penghormatan terhadap hak asasi manusia yang dibagi menjadi dua kategori utama yaitu hak-hak sipil dan politik (civil and political rights), kesetaraan di mata hukum (equality before the law) dan hak untuk berpendapat (freedom of expression) serta hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (economic, sosial and cultural rights) yang mencangkup hak untuk bekerja (right to work), hak atas pangan (right to food), hak atas kesehatan (right to health), hak atas pendidikan (right to education), dan hak atas jaminan sosial (right to social security).

Ketenagakerjaan (labor practices). Elemen ini mencangkup seluruh hal yang terdapat didalam prinsip dasar deklarasi ILO 1944 dan hak-hak tenaga kerja dalam deklarasi hak asasi manusia.

Lingkungan. Elemen ini mecangkup pencegahan polusi sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dan penggunaan sistem manajemen lingkungan yang efektif dan berkelanjutan.

Praktik operasional yang adil (fair operational practices). Pelaksanaan aktivitas secara etik dan pengungkapan aktivitas perusahaan yang transparan, pelaksanaan aktivitas pemilihan pemasok yang etis dan sehat, penghormatan terhadap hak-hak intelektual dan kepentingan stakeholder, serta perlawanan terhadap korupsi.
Konsumen (consumer issues). Elemen ini mencangkup penyediaan informasi yang akurat dan relevan tentang produk perusahaan kepada pelanggan, persediaan produk yang aman dan bermanfaat bagi pelangggan.

Keterlibatan dan pengembangan masyarakat (community envolvment and development). Elemen ini mencangkup pengembangan masyarakat, peningkatan kesejahteraan masyarakat, aktivitas sosial kemasyarakatan (pholantrophy), dan melibatkan masyarakat didalam aktivitas operatioanal perusahaan.

Corporate Social Responsibility dihitung berdasarkan jumlah pendapatan bersih perusahaan dan dibagi dengan 91 indikator berdasarkan GRI-G4. GRI-G4 juga menyediakan panduan mengenai bagaimana menyajikan pengungkapan keberlanjutan dalam format yang berbeda : baik itu laporan keberlanjutan mandiri, laporan keberlanjutan terpadu, laporan tahunan, laporan yang membahas norma-norma internasional tertentu, atau laporan online. Jenis pendekatan penggukuran GRI-G4 melalui isi laporan tahunan dengan aspek-aspek penilaian tanggungjawab sosial yang dikeluarkan oleh GRI (Global Reporting Initiativ).

Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, dan pemanfaatan sustainability reporting. Dalam standar GRI-G4 (2013) indikator kinerja dibagi menjadi 3 komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial mencakup praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja, hak asasi manusia, masyarakat, tanggung jawab atas produk dengan total kinerja indikator mencapai 91 indikator.
PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL (CSRD)
Secara sederhana arti pengungkapan adalah penyampaian informasi (Islahuzzaman, 2012).Jika di kaitkan dengan laporan keuangan, pengungkapan mengandung arti bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi dan penjelasan yang mencangkup aktivitas suatu unit usaha (Chairi, 2001). Sehingga Corporate Social Responsibility Disclosure dapat dimakanai sebagai sebuah proses penyampaian informasi dan komunikasi mengenai dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari kegiatan ekonomi sebuah organisasi atau perusahaan terhadap kelompok khusus yang berkepentingan.
Di Indonesia pengungkapan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility Disclosure) diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang disahkan pada tanggal 20 Juli 2007. Menurut UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 74 menyebutkan bahwa:
Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tangung jawab sosial dan lingkungan.

Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan keputusan dan kewajaran.

Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam UU No. 40 Tahun 2007 pasal 66 ayat (2c) juga disebutkan bahwa Perseroan Terbatas juga wajib mengungkapkan aktivitas tanggung jawab sosial dalam laporan tahunan.
Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) dalam Savitrah (2014) menyatakan bahwa pertanggung jawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting.Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Sustainability Reporting meliputi pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi.Sustainability report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang sustainability development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya
METODE PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan di awal, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian explanatory research..Penelitian kualitatif dengan jenis explanatory researchi ini bertujuan untuk menguji hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajemen dan Kepemilikan Asing terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility.Sedangkan Sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan tahunan perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI).Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 sampai tahun 2014.Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode jugment sampling, yaitu salah satu bentuk dari metode purposive sampling dengan mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan maksud dan tujuan peneliti.

HASIL PENELITIAN
Kepemilikan Institusional terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil analisis regresi linier berganda pada Uji t terhadap hipotesis pertama (H1) dapat dilihat pada Tabel 4.12 bahwa Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility dengan melihat taraf signifikansinya yaitu sebesar 0,029.Hubungan yang ditunjukkan oleh koefisien regresi adalah positif, artinya semakin baik Kepemilikan Institusional maka perusahaan memiliki tekanan lebih tinggi untuk mengungkapan Corporate Social Responsibility (H1 diterima).

Pada penelitian ini, Pengungkapan Corporate Social Responsibilitydipengaruhi oleh Kepemilikan Institusional.Dalam proses memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham (pemilik perusahaan). Tidak jarang pihak manajemen perusahaan mempunyai tujuan lain yang mungkin bertentangan dengan tujuan utama perusahaan. Hal ini akan mendorong kinerja manajemen dan mencegah terhadap terjadinya manajemen laba. Monitoring yang dilakukan istitusi mampu mensubtitusikan agency cost ke biaya lain, sehingga biaya keagenan (agency cost) menurun dan nilai perusahaan meningkat. Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar lebih mampu untuk memonitor kinerja manajemen.Dengan demikian, kepemilikan institusional dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pengungkapan sukarela.Hal ini berarti kepemilikan institusional dapat mendorong perusahaan untuk meningkatkan pengungkapan CSR.

Kepemilikan Manajemen terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil analisis regresi linier berganda pada Uji t terhadap hipotesis kedua (H2) dapat dilihat pada Tabel 4.12 bahwa Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility dengan melihat taraf signifikansinya yaitu sebesar 0,001, artinya semakin baik Kepemilikan Manajemen maka perusahaan memiliki tekanan lebih luas untuk mengungkapan Corporate Social Responsibility (H2 diterima).

Pada penelitian ini, Pengungkapan Corporate Social Responsibilitydipengaruhi oleh Kepemilikan Manajemen.Adanya struktur kepemilikan manajemen dapat menjadi salah satu mekanisme memperkecil adanya agency problem dalam perusahaan. Dengan menambah jumlah kepemilikan manajemen, maka manajer akan merasakan dampak langsung atas setiap keputusan yang mereka ambil karena mereka menjadi pemilik perusahaan (Eriandani, 2013). Manajer yang memiliki saham perusahaan tentunya akan menyelaraskan kepentingan sebagai manajer dengan kepentingannya sebagai pemegang saham. Semakin besar kepemilikan manajerial dalam sebuah perusahaan maka semakin produktif tindakan manajer dalam memaksimalkan nilai perusahaan (Rustriarini, 2011). Dan salah satu cara manajer perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan adalah dengan mengungkapkan informasi CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan di sekitarnya (Anggraini, 2006).

Kepemilikan Asing Berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil analisis regresi linier berganda pada Uji t terhadap hipotesis ketiga (H3) dapat dilihat pada Tabel 4.12 bahwa Kepemilikan Asing berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility dengan melihat taraf signifikansinya yaitu sebesar 0,002.Hubungan yang ditunjukkan oleh koefisien regresi adalah positif, artinya semakin baik Kepemilikan Asing maka perusahaan memiliki tekanan lebih tinggi untuk mengungkapan Corporate Social Responsibility (H3 diterima).

Pada penelitian ini, Pengungkapan Corporate Social Responsibilitydipengaruhi oleh Kepemilikan Asing.Perusahaan asing memiliki teknologi yang cukup baik, keahlian tenaga kerja yang baik, jaringan informasi yang luas, sehingga memungkinkan untuk melakukan disclosure secara luas. Melaui faktor-faktor tersebut, perusahaan asing akan berusaha meningkatkan nilai perusahaan yang dibentuk oleh para insvestor asing dalam kegiatan operasional dimana perusahaan anak atau afilasi didirikan. Banyak negara yang dijadikan sebagai target operassi perusahaan asing, seperti Indonesia. Perusahaan multinasional atau dengan kepemilikan asing utamanya melihat keuntungan legitimasi berasal dari para stakeholdernya yang biasanya berdasarkan atas home market (pasar tempat beroperasi) sehingga dapat memberikan eksistensi yang tinggi dalam jangka panjang Pengungkapan tanggung jawab sosial merupakan salah satu media yang dipilih untuk memperlihatkan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di sekitarnya
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, F.R.R. 2006.Pengungkapan informasi sosial dan faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan tahunan (studi empiris pada perusahaanperusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta).”Simposium Nasional Akuntansi IX.Universitas Sanata Dharma Yogya. Padang
Eriandani, Rizky 2013 “Pengaruh Institutional Ownership dan Managerial Ownership terhadap Pengungkapan CSR pada Laporan Tahunan Perusahaan Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur 2010-2011″ S
Rustiarini, Ni Wayan. 2011.”Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham Pada Pengungkapan Corporate Social Responsibility”. Audit Jurnal Akuntansi Dan Bisnis, 12 (1) : 1-12.

x

Hi!
I'm Kerry!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out